[Opini] Memerdekakan Diri

merdeka

Penulis: Ainur Irawan

Editor: Nurwahidah Ramadhani Waruwu


 Menurut KBBI, merdeka adalah:

  1. bebas (dari perhambaan, penjajahan dan sebagainya); berdiri sendiri
  2. tidak terkena atau lepas dari tuntutan
  3. tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa.

Sedangkan kemerdekaan adalah keadaan (hal) berdiri sendiri (bebas, lepas, tidak terjajah lagi, dan sebagainya); kebebasan.

Jika menilik arti kemerdekaan tersebut, saya jadi ragu apakah bangsa kita sudah merdeka atau belum? Hehehe 😀

Indonesia sejatinya adalah milik bangsa Indonesia, bukan bangsa lain. Namun, hingga saat ini, Indonesia masih ‘terjajah’ negara lain. Contohnya saja, banyak proyek besar yang seharusnya bisa berdampak pada kemakmuran rakyat Indonesia, justru lebih menguntungkan negara besar yang berinvestasi di Indonesia. Untung saja beberapa bulan lalu tersiar kabar PT Freeport setuju mendivestasikan 51% sahamnya kepada pemerintah.

Begitu juga perihal kemiskinan yang sudah bertahun-tahun merajalela di Indonesia. Kalau menurut kalian, kemiskinan ini salah siapa? Pemerintah? Atau diri kita?

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” -Ir. Sukarno

Ah, abaikan saja itu semua.

Mencari Kemerdekaan

Kata merdeka mempunyai makna yang dalam dan luas. Merdeka berarti bebas, mandiri, tidak bergantung kepada siapapun, serta melakukan pekerjaan dengan tangan dan kaki sendiri.

Tapi, sejak masa sekolah, saya merasa kebebasan saya terkekang oleh peraturan-peraturan sekolah hingga saya sempat berpikir jika lulus sekolah, saya bisa bebas melakukan segala hal yang diinginkan.

Saat hari kelulusan tiba, saya merayakan ‘kebebasan’ tersebut dengan mencoret-coret baju seragam serta berkonvoi bersama teman-teman di jalanan. Tapi, setelah melakukan hal yang saya inginkan, saya tak juga merasa merdeka. Saya justru merindukan saat-saat masih memakai seragam sekolah.

Dilema kembali saya rasakan saat menjadi pengacara (pengangguran tanpa acara) di rumah setelah lulus sekolah. Melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi belum ada biaya, mencari pekerjaan juga tak semudah menulis lamarannya.

Mau membeli sesuatu pun susah, karena semua butuh biaya. Meminta pada orang tua juga rasanya tak sepantas saat masih sekolah. Saya jadi berpikir bahwa saya belum bisa dikatakan merdeka jika belum mandiri dari pertolongan orang tua.

Di saat sudah mendapat pekerjaan, saya senang bukan kepalang. Mengingat saya akan mendapatkan uang untuk membuktikan saya sudah merdeka. Saya bisa membeli apapun yang saya inginkan dengan uang tersebut.

Pikiran itu tak bertahan lama. Setelah bekerja, saya akhirnya sadar akan satu hal, bahwa melakukan suatu pekerjaan di perusahaan, otomatis kebebasan saya juga terkekang oleh peraturan yang ada. Misalnya, saat saya ingin libur panjang, namun  hanya diizinkan cuti selama 2 hari. Keinginan tersebut tentu saja tak bisa tercapai. Ternyata, uang tidak sepenuhnya memerdekakan.

Setelah mengalami pasang surut kehidupan, saya merasa yakin bahwa kemerdekaan bukan berarti kita bebas melakukan segala hal, bukan sekadar bebas memilih sesuatu sesuai kehendak kita. Merdeka adalah tentang tanggung jawab yang besar, kesanggupan diri melakukan hal yang baik secara sadar, dan juga berarti kesiapan diri memilih yang benar.

Kemerdekaan Sejati

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Kehidupan ini merupakan tanggung jawab kita sendiri. Walau terkadang tidak bisa dipungkiri bahwa kita hidup berdasarkan pilihan orang lain, misalnya pilihan orang tua perihal masa depan.

Sejak kecil, kita sudah diberi harapan-harapan besar oleh orang tua, entah bersekolah, meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi, atau mencari pekerjaan yang baik agar bisa menjadi ‘orang’. Terkadang pilihan orang lain terlihat lebih realistis ketimbang pilihan diri sendiri.

Namun, apapun pilihan kita, entah itu dari pilihan orang tua maupun orang lain, selama kita menjalaninya dengan tanggung jawab dan menyadari hal yang kita lakukan baik untuk kita, itu sudah merupakan perjalanan menuju kemerdekaan yang sesungguhnya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa kita adalah makhluk sosial yang tidak pernah bisa hidup sendiri. Bantuan orang lain tentu kita perlukan untuk bisa berjuang menjalani kehidupan ini. Tapi, bukan berarti kita tidak mampu mandiri.

Memercayai dan menyakini bahwa semua bantuan yang diberikan orang lain adalah bentuk kebaikan Tuhan yang hakiki, adalah pokok kemerdekaan kita sebagai seorang yang mandiri. Menyakini bahwa kemerdekan bukan berarti saat semua bisa kita lakukan sendiri, namun saat kita bisa berdiri di atas hidup itu sendiri.

Terkadang kita lupa, bahwa kemerdekaan tidak selalu berarti apa yang bisa kita raih dan miliki, melainkan apa yang bisa kita beri. Berbagi adalah salah satu cara untuk bisa menikmati rasa merdeka dalam diri. Berbagi bukan hanya tentang jumlah yang kita beri, melainkan tentang rasa syukur ketika mampu memberi sesuatu yang kita punya dan sukai.

Merdeka juga perihal mensyukuri kehidupan. Karena sesungguhnya, kehidupan yang sementara ini bisa menjadi berkah dan manfaat untuk diri sendiri maupun orang sekitar kita.

Mensyukuri takdir merupakan landasan untuk bisa berbahagia, karena dengan ikhlas menjalani lika-liku kehidupan, kita akan menemukan arti kemerdekaan sejati.

Merdeka berarti menjalani semua pilihan hidup dengan mandiri, bahagia, penuh tanggung jawab, menyadari bahwa setiap perjalanan itu tak lepas dari takdir Ilahi, serta sepatutnya kita selalu bersyukur dan ikhlas dalam menjalaninya.

Karena merdeka itu ada di ketentraman hati setiap insan.

7 thoughts on “[Opini] Memerdekakan Diri

  1. Menurut saya, paragraf terakhirnya adalah kesimpulannya, pas banget, pham saya.

    “Merdeka berarti menjalani semua pilihan-pilihan hidup dengan mandiri, bahagia dan penuh tanggung jawab, serta menyadari bahwa semua perjalanan itu tak lepas dari takdir Ilahi, dan sepatutnya kita selalu bersyukur dan ikhlas dalam menjalaninya.”

    Liked by 4 people

  2. Setuju dg mas Desfortin. Paragraf terakhir memang kesimpulan yg sangat pas tentang apa itu merdeka. Dan saya pribadi juga sdh merasakan apa itu merdeka.

    Kita saat ini hidup di alam dan negara yg merdeka. Tidak dalam sebuah negara yg otoriter atau diktator. Bebas belajar, bekerja beribadah..

    Tidak terbayang jika hidup di negara yg mana rakyatnya selalu hidup dalam ketakutan.

    Selamat hakemerdekaan RI yg ke 72.
    Smg negara kita selalu diberkahi Allah Swt
    Amin

    Liked by 1 person

  3. Merdeka itu saat kita terbebas dari hawa nafsu duniawi.
    Bila kita mampu free style lalu terlepas dari berbagai bentuk gemerlapan duniawi yang cenderung membuat ketergantungan: It’s a reael freedom….
    Salam santun

    Liked by 1 person

Leave a Reply to mudjirapontur Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s