Serba–Serbi Lebaran

Moderator: Cinta Nungky Lestari

 

Lebaran, kata yang tidak asing bagi umat Islam. Layaknya hari keagamaan lain, lebaran tidak hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan saja, namun juga melekat budaya sesuai keadaan umat Islam di berbagai wilayah Indonesia. Para anggota komunitas Obrolin berdiskusi tentang beberapa poin menarik dan unik terkait lebaran. Apa saja? Yuk, simak.

Mudik

Mudik alias “Mulih Dhisik” (pulang dulu) adalah kebiasaan yang selalu ada saat hari raya, di mana perantau pulang ke kampung halamannya untuk berkumpul dengan keluarga. Berikut beberapa tips agar nyaman ketika mudik.

  1. Kurangi bawaan berlebih; bawalah barang secukupnya, atau jika barang bawaan banyak, bisa disiasati dengan mengirimnya melalui jasa pengiriman terlebih dahulu.
  2. Berangkat lebih awal; jika lebaran jatuh pada tanggal 25, maka Anda bisa mengambil cuti H-2 lebaran untuk menghindari kemacetan.
  3. Nikmatilah perjalanan; ambil posisi duduk ternyaman, bisa sambil mendengarkan musik atau bacaan Alquran, membaca buku, menulis dan memublikasikan tulisan di blog.
  4. Siapkan mainan untuk anak-anak, bagi yang sudah berkeluarga; jika Anda punya balita, jangan sampai ketinggalan mainan yang mampu mengalihkan kebosanan mereka. Seperti orang dewasa, balita juga akan cepat bosan jika berlama-lama di kendaraan.
  5. Lain-lain; Anda bisa menyiapkan cemilan, power bank sebagai cadangan baterai, buku TTS, dan bantal kecil untuk tidur. Mengisi TTS atau tidur dapat membantu mengusir kebosanan, terutama ketika jalanan macet. Dan tentu saja, jangan lupa obat-obatan, seperti minyak angin atau lainnya sesuai kebutuhan pribadi. Sebagai sentuhan akhir, Anda bisa membawa kosmetik secukupnya seperti toner, lisptik dan tisu basah, untuk menjaga penampilan wajah tetap segar.

 

Ketupat Lebaran

Makanan berbahan dasar beras ini dimasak dalam daun kelapa yang dianyam. Ketupat biasa disajikan dengan opor, sate, soto, kupat taju, sayur dan ayam santan, serta masih banyak lagi.

Nah, ternyata ketupat punya filosofi, lho. Konon, oleh Sunan Kalijaga, ketupat diperkenalkan sebagai makanan saat lebaran. Kerumitan anyaman daun kelapa menggambarkan kesalahan yang diperbuat manusia, sedangkan isi ketupat yang putih melambangkan tujuan yang dicapai setelah melewati penggemblengan selama bulan Ramadhan.

Salah seorang anggota dari Padang bercerita tentang makanan khas lebaran di sana, yaitu lemang. Lemang terbuat dari beras ketan yang ditambahkan santan, dimasukkan ke dalam bambu, kemudian di bakar. Ada juga yang dicampur dengan ketela rambat.

 

Sungkeman, bersilaturahmi dan saling meminta maaf

Sungkeman dimulai dengan meminta maaf kepada yang lebih tua, utamanya orang tua. Dimulai dari yang paling tua dalam keluarga kemudian berurutan ke yang lebih muda. Setelah selesai dengan keluarga, maka mulailah  bertamu mengunjungi rumah kerabat, tetangga, dan sanak saudara untuk saling memaafkan.

Tentu banyak sekali perbincangan di dalam acara yang satu ini. Sebagai contoh, biasanya yang masih single akan ditanya seputar pertanyaan yang itu-itu saja. Kapan nikah? Mana calonnya? Jika bertemu pertanyaan semacam ini, apa saja jawaban yang bisa di berikan? Berikut versi teman–teman Obrolin:

“Lihat henna saya dong Bu, saya sebentar lagi menikah, insya Allah. Doanya ya, Bu. Calon saya? Ah, saya sembunyikan dulu Bu, calon saya terlalu tampan, terlalu imut untuk dibawa-bawa ke sini. Kasihan, dia juga butuh waktu dengan ibunya.” Salah seorang anggota menjagokan jawaban ini.

Pernah ada yang ditanya, “kapan…” oleh teman orang tuanya. Dijawab, “lah, anak ibu belum mau ngelamar saya eh..” jawaban ini rasanya cukup bisa juga mengundang tawa.

Atau dijawab saja dengan “mohon doanya”, atau “tahun depan”, kalau tidak sungguhan tahun depan ya pokoknya tahun depan terus sampai dapat jodoh. Hikz.

Salah seorang anggota saat ditanya “Kapan..?” Ia menjawab,”saatnya akan tiba. Bersabarlah. Saya saja sabar, masa yang nanya nggak”.

Ada lagi yang dengan enteng menjawab, “kalau bukan di hari libur, mungkin pas tanggal merah”.

Atau kalau kebetulan sedang bersama bapak, bisa cari aman. ”Tunggu disetujui bapak”, dan akhirnya gantian bapak yang ditanya.

Atau paling singkat, jawab saja “secepatnya”.

Nah, silahkan dipilih mana sekiranya jawaban yang bisa teman-teman pakai, atau sudah punya jawaban sendiri?

 

Kue Lebaran

Tak lengkap rasanya bertamu tanpa sajian kue. Minuman dari berbagai jenis warna pun tersaji indah di atas meja bak pelangi. Sebagian dari kita mungkin ada yang mendapatkan parsel, membuat kue lebaran sendiri, atau membeli kue yang sudah jadi. Ada bermacam-macam kue lebaran yang biasanya tersaji, beberapa yang unik diantaranya: tape ketan, sagon (ini sepertinya sudah menjadi jajanan langka), dan bermacam-macam jajanan lain yang biasanya dimasukkan ke tempat kue, terutama wadah yang paling sering mengecoh, kaleng Khong Guan.

 

Baju Baru

Istilah ‘baju baru’ di hari lebaran seperti sudah menjadi tradisi. Bagi sebagian besar masyarakat di kampung, membeli baju di waktu lebaran adalah momen penting untuk membeli baju baru. Kapan lagi? Karena biasanya mereka membeli baju hanya di waktu lebaran.

Namun sesungguhnya, baju lama tidak apa-apa, yang lebih penting diperbarui adalah hati. Hati yang baru, kembali fitrah seperi bayi baru lahir ke dunia. Kata pak ustadz, inilah inti lebaran yang sebenarnya.

 

Salam tempel

Bahasa kerennya, angpau. Bagi anak-anak sampai remaja, ini adalah bagian terfavorit. Mereka akan menerima banyak tempelan di tangan ketika lebaran. Isinya dalam amplop itu ada beberapa lembar rupiah. Yang paling menyenangkan, uang di dalam amplop adalah uang baru yang masih kaku dan bisa dibuat kipas-kipasan saking masih kencang kertasnya.

Nominalnya tergantung kepada yang memberi. Bisa berupa selembar dua puluh ribu, selembar sepuluh ribu, selembar lima ribu dan selembar dua ribu rupiah. Banyak jenis seperti ini sudah sangat menyenangkan bagi anak kecil, terutama untuk dioleksi sementara.

***

Nah, itulah sebagian serba–serbi lebaran yang telah didiskusikan. Tips mudik bisa digunakan untuk siapa saja, kue lebaran bisa di cicip siapa saja yang berkunjung ke rumah. Jadi, kapan nikah?

***

 

Tulisan ini adalah hasil diskusi online yang diadakan oleh komunitas Obrolin pada Senin malam, 19 Juni 2017, pukul 21.00-23.00 WIB

4 thoughts on “Serba–Serbi Lebaran

Tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s