[Cerbung] Green Corvus – Episode 2

Cerbung -Green Corvus episode 2

Sebuah cerbung oleh Bunda Dyah

Editor : M. Nuchid

Episode sebelumnya

*

Masih pagi. Baru pukul tujuh lewat. Tapi Aries dan Aurora sudah siap di meja makan. Tiga porsi omelet tampak terhidang di meja, beserta salad dan dua gelas cokelat panas. Aurora selalu membuat tiga porsi omelet karena Aries selalu meminta jatah dua porsi. Tak masalah bagi Aurora. Karena setelahnya, Aries akan mencurahkan energi dari salad dan omelet itu untuk berkutat dengan naskah-naskahnya. Mengedit, atau menulis naskah baru.

“Sudah dengar berita pagi ini?” tanya Aurora di sela kunyahannya.

“Sudah. Tentang kematian senior editor Brilliant Publishing, kan? Kenapa?” Aries tak acuh saja menjawab. Dia merasa sayang jika harus menikmati omelet sambil membahas hal yang menurutnya tak  penting.

“Aku melihat sesuatu dari kasus yang diberitakan itu.” Aurora terlihat serius. Sesekali matanya melirik koran pagi yang ada di hadapannya.

“Sesuatu? Sesuatu apa? Apa bisa menjadi sumber inspirasi untuk novel baruku nanti?” Aries menatap Aurora setengah hati. Dia masih memikirkan penolakan naskahnya kemarin.

“Bukan itu. Ini sudah ke lima kalinya senior editor sebuah penerbitan mati misterius. Uniknya, semua mati karena hal yang sama. Jantung yang hancur serupa tepung dan dada yang lebam dengan bentuk kaki burung ukuran raksasa,” tutur Aurora antusias. Potongan-potongan sayur dan buah dalam mulutnya hampir terlempar keluar.

“Cuma itu?” Aries masih acuh tak acuh.

“Belum, masih ada lagi. Lima-limanya ditemukan mati setelah menolak naskahmu.” Aurora  menatap tajam kakaknya.

“Jadi, kau menuduhku melakukannya?” Aries menggeleng tegas. “Bodoh! Membunuh kecoak saja aku tidak berani, apalagi membunuh manusia. Lagi pula, masih banyak penerbit di kota ini yang bisa kudatangi. Kalau di kota ini sudah habis, aku bisa ke Diamond City. Jadi, untuk apa membunuh mereka?”

“Mungkin bukan kau yang melakukannya. Tapi seseorang, atau lebih tepatnya sesuatu yang berhubungan denganmu.”

“Siapa? Dalam berita dijelaskan, korban mati dengan jantung hancur dan lebam di dada berbentuk telapak kaki burung. Burung mana yang bisa kusuruh? Memelihara pun tidak. Kalau telapak kaki anjing masih mungkin berkaitan denganku. Meski aku juga tidak yakin anjing semanis Siro bisa melakukannya.”

Aries menunjukkan wajah kesal. Secara tidak langsung Aurora menuduhnya. Padahal Aurora tahu sendiri, Aries selalu menghabiskan waktunya di depan televisi dengan bergelas-gelas kopi,  setiap usai menerima penolakan.

“Mungkin kau memang tidak memelihara burung, Res. Tapi kau punya Green Corvus.” Tangan Aurora menunjuk arah perpustakaan. Ruang buku, sekaligus ruang bagi Aries untuk menuangkan ide.

“Green Corvus?”

Aurora mengangguk.

“Maksudmu, Green Corvus, gagak hijau dalam novelku itu?” Dahi Aries berkerut dan lagi-lagi Aurora mengangguk.

“Tepat!” seru Aurora sambil menjentikan jarinya. “Green Corvus si Gagak Hijau dalam novelmu itu.”

“Rora … Kau tidak salah makan, kan? Atau, semalam kau salah minum sesuatu? Mana mungkin sebuah—eh—sesosok—atau apalah, tokoh rekaan dalam sebuah novel, keluar dari draft novelnya lalu membunuh orang? Bagian mananya yang bisa diterima akal sehat?” Aries menepuk keras dahinya.

“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Burung gagak hijau itu mungkin sangat ingin segera merasuki pembacamu dengan aksinya, kemudian mereka akan mengidolakannya meski dia antagonis. Kau tentu paham kan, sering kali tokoh antagonis pun disukai? Apalagi sebenarnya Corvus awalnya seorang pemuda tampan yang baik hati.”

Aries terdiam. Aurora betul. Corvus sebenarnya seorang pemuda tampan dan baik hati, bernama Thomas. Hanya saja, dia selalu dikucilkan teman-temannya karena miskin. Dia marah, tapi tak bisa mengubah keadaan. Hingga suatu saat, dia menemukan sebutir berlian berwarna hijau yang mengubah segalanya. Berlian itu mengubah kehidupan keluarganya yang miskin menjadi kaya meski harus mengorbankan dirinya, yang berubah menjadi gagak hijau pemberang yang mematikan.

Lagi-lagi Aries mengembuskan napasnya yang terasa sesak. Berkali-kali dia menggelengkan kepala berusaha menolak semua penjelasan dan kemungkinan yang dijabarkan adiknya.

“Ah, sudahlah! Pusing kepalaku jadinya. Aku harus segera bersiap. Terima kasih, ya, untuk omelet yang sedap kali ini.” Aries berdiri dan melangkah ke ruang kerjanya.

“Kau mau ke mana?” teriak Aurora sembari membereskan bekas sarapan mereka.

“Diamond City. Mencoba peruntunganku pada penerbit di sana. Seminggu yang lalu aku kirimkan novel itu ke sebuah penerbit, dan hari ini editornya  memintaku datang.” Aries masih berteriak dari dalam ruang kerja. Dia memang baru saja menerima pesan singkat dari seorang senior editor di Diamond City. Tempat yang cukup jauh dari Thousand Rivers.

“Oh, begitu rupanya? Good luck, ya ….”

Aries tak menjawab. Ada sesuatu yang membuat dahinya berkerut. Ada sesuatu dengan draft novelnya. Sesuatu yang membuat dahinya berkerut dan kepalanya dipenuhi tanya.

Di tempat berbeda, di Kepolisian Metro Thousand Rivers, Andromeda masih berkutat dengan masalah yang sama. Pembunuhan misterius yang diduga dilakukan oleh seekor burung raksasa. Lagi-lagi tak ada petunjuk apa pun. Semua buntu. Jujur saja Andromeda sudah sangat putus asa. Ini kasus yang luar biasa menguras tenaga dan emosinya. Seandainya ada satu saja petunjuk, mungkin dia tak akan segundah sekarang. Kasus ini, karir taruhannya.

“Bagaimana, Dom. Sudah ada petunjuk?” Suara berkarakter berat dan wibawa itu membuyarkan lamunan Andromeda. Segera dia berdiri dan memberi hormat.

“Belum, Pak. Dan jujur saja saya sudah patah arang.” Andromeda duduk kembali setelah tamunya duduk terlebih dulu. Dia Shan Lewis, kepala Kepolisian Metro Thousand Rivers.

“Ini sudah pembuhunan kelima, Dom. Masa sama sekali tak ada petunjuk?” Pria berkulit sawo matang itu menatap tajam Andromeda. Anak buahnya itu hanya diam dan tetap menunduk menekuri laporan forensik dan hasil olah TKP.

“Andromeda, kamu yang terbaik di Kepolisian Metro ini. Karena itu aku mempercayakan kasus ini padamu. Teruslah berusaha. Kau akan temukan jalan keluarnya. Percayalah.” Shan menepuk bahu Andromeda. Mencoba membangkitkan rasa percaya dirinya.

“Ada tenggang waktu?” Andromeda bertanya.

“Untuk kali ini tidak. Kau urus saja sampai kasus ini terpecahkan, dan kau tangkap siapa pelakunya, oke?” kata Shan sembari melangkah meninggalkan ruangan. Sementara Andromeda hanya tersenyum sekadarnya. Pikirannya masih dipenuhi tanda tanya. Tapi kali ini, semangatnya sedikit terpompa karena kasusnya bisa dia selesaikan tanpa dibatasi waktu. Akan ada banyak kemungkinan, akan ada banyak jalan keluar.

 

.

.

Bersambung…

Episode selanjutnya

5 thoughts on “[Cerbung] Green Corvus – Episode 2

Tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s