[Cerbung] Green Corvus – Episode 4

Cerbung : Green Corvus episode 4

Sebuah cerbung oleh Bunda Dyah

Editor : M. Nuchid

Episode sebelumnya

*

Dering telepon membangunkan Aries. Entah sudah berapa lama telepon kuno di perpustakaan itu berdering. Semalam, sepulang dari kafe, Aries menghabiskan waktu dengan membaca di perpustakaan, berteman Siro, pudel kesayangannya. Dan rupanya, dia tertidur tanpa ada yang membangunkan untuk pindah ke kamar.

Dilihatnya jam digital di layar ponsel. Baru pukul tiga dini hari lewat. Masih terlalu pagi jika penerbit akan menghubunginya. Lalu siapa?

Tak lama, giliran ponselnya yang bergetar dengan layar yang berkedip-kedip. Sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal.

“Halo!” serunya sambil mengucek matanya yang masih terasa lengket.

“Res? Ini benar dengan Aries?” tanya seseorang di seberang. Seperti mengenal suaranya, tapi ….

“Yup. Ini Aries. Dengan siapa saya bicara?”

“Ini Dom, Res. Andromeda!”

“Ah, ya. Dari mana kau tahu nomor ini?”

“Kau lupa, semalam kita bertukar kartu nama?” Aries memutar sejenak memorinya. Kemudian dia ingat sempat bertukar kartu nama dengan Andromeda di kafe.

“Oh iya, aku ingat sekarang. Lantas, ada apa kau menelponku sepagi ini? Ini masih gelap, Dom!”

“Oke. Maaf, kalau aku membangunkanmu di jam yang tak semestinya. Tapi ada yang harus kamu dengar.”

“Apa?” tanya Aries sekadarnya, berharap pembicaraan pagi buta itu segera selesai.

“Saat ini aku sedang di TKP. Editor Diamond Publisher terbunuh semalam.”

What? Diamond Publisher?” Aries tampak sangat terkejut. Pertanyaan yang segera diiyakan oleh Andromeda.

“Ya. Dengan cara yang sama dengan korban sebelumnya. Tapi kali ini, ada dua saksi mata yang melihat pembunuhnya sebelum kejadian. Dan berdasarkan keterangan saksi , korban tampaknya juga memberikan perlawanan.”

“Lantas?”

“Dugaan adikmu benar. Green Corvus pembunuh semua editor penerbitan itu.”

“Bagaimana kau bisa begitu yakin?!”

Andromeda kemudian menceritakan kesaksian dua petugas keamanan kantor penerbitan  tersebut. Petugas pertama yang bernama Andy, mengaku sempat dilemparkan oleh sesosok burung raksasa berwarna hijau tua saat mencegahnya masuk. Dilemparkan dengan keras hingga membentur dinding dan mengalami patah tulang di bahunya. Petugas keamanan  lain yang bernama Bian, merasa ketakutan, kemudian bersembunyi di balik lemari di depan ruang si editor. Dari tempat persembunyiannya, dia melihat bagaimana burung gagak hijau itu mengejar si editor yang ketakutan hingga tersudut di lobi kantor,  dan kemudian menginjaknya dengan kuat dan penuh amarah.

“Mereka begitu ketakutan, Res. Bahkan Bian masih gemetaran sampai sekarang. Dia melihat bagaimana editor itu dibunuh.”

“Ada barang bukti?”

“Ada. Sehelai bulunya terlepas. Menurut Bian, editor itu sempat memberikan perlawanan hingga sehelai bulunya tertarik dan lepas. Bulu yang begitu halus dan berwarna hijau tua.”

“Lalu, kemana perginya burung itu?”

“Entahlah. Mereka begitu ketakutan sehingga tak memperhatikan lagi ke mana perginya Corvus. Mereka hanya tahu, bahwa si editor harus diselamatkan dengan memanggil petugas medis dan polisi, meski kenyataannya, nyawanya tak tertolong lagi.”

Aries hanya diam. Di kepalanya masih berputar-putar antara mungkin dan tidak mungkin, logis dan tidak logis. Pertanyaan terbesarnya adalah, mengapa para editor itu dibunuh? Apa salah mereka? Benarkah dugaan Aurora, bahwa Corvus ingin segera menjadi idola seperti para mugle rekaan Rowling, para hobbit rekaan Tolkien atau para tokoh komik legenda seperti Thor dan Iron Man?

Mendadak kepala Aries terasa pening. Kantuk yang belum terpuaskan dan kabar yang baru saja diterima, membuat kepalanya terasa berat dan sesak.

“Res, kau masih di situ?” Sebuah suara menyadarkannya bahwa dia sedang menerima telepon.

“Ah, ya … ya… Dom ….”

“Ada satu hal lagi yang harus kamu tahu.”

“Apa lagi?”

“Tadi malam, saat aku sedang di kantor, seorang tetangga menelepon. Dia mengatakan melihat bayangan burung raksasa dari jendela kamarku. Anjingku, Rocky, juga menyalak dengan keras, tak seperti biasanya. Angin di sekitar tempat tingggal kami juga mendadak bertiup kencang. Anehnya, angin pun mendadak berhenti bertiup bersamaan dengan menghilangnya bayangan burung itu.”

“Sebentar … Ya Tuhan! Aku baru ingat, semalam kau membawa draft novel yang tertolak itu, kan? Aku mengalami kejadian serupa sebelum editor Brilliant Publishing ditemukan meninggal. Hanya saja, aku tak sempat melihat sosok burung itu keluar dari draft novelku.”

“Kita harus melakukan sesuatu, Res. Tidak mungkin hal ini kita diamkan. Kita sudah tahu siapa pelakunya.”

“Aku tahu. Tapi bagaimana caranya? Burung itu hanya akan muncul jika naskahku tertolak. Berarti?”

“Berarti harus ada satu penerbit lagi yang menolak naskahmu, Res.”

“Jika tidak ada?”

“Dibuat jadi ada.”

“Maksudnya, kita perlu umpan?”

“Genius! Ternyata kau novelis yang genius. Kita perlu umpan. Tapi sebelum kita siapkan umpan, kita harus tahu dulu, bagaimana cara melumpuhkan Green Corvus.”

“Melumpuhkan Green Corvus? Mmmm, ya, ya, ya …. Rasanya aku dan Aurora tahu bagaimana caranya. Kautunggu saja kabar dari kami, Andro. Secepatnya aku akan menghubungimu jika kami sudah siap. Tapi ….”

“Tapi apa?”

“Kau tidak takut, atasanmu akan mentertawakanmu?”

“Kenapa?”

“Karena  kamu akan menangkap tokoh rekaan, khayalan?”

“Aku tidak peduli. Kesaksian Andy dan Bian, juga sehelai bulu besar itu rasanya cukup untuk membuat Pak Shan mengikuti saja rencana kita ini.”

“Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas informasinya, Dom.”

“Sama-sama Res. Maaf, kalau aku mengganggumu. Aku tunggu kabar darimu secepatnya.”

“Oke.”

Telepon ditutup. Tinggalah Aries sendiri, duduk mematung di meja kerjanya. Wajahnya tampak serius dan dahinya berkerut. Namun sebentar kemudian, matanya tampak berbinar. Di kepalanya telah tersusun satu rencana.

 

.

.

Bersambung…

Episode selanjutnya

Advertisements

6 thoughts on “[Cerbung] Green Corvus – Episode 4

      1. cuma 12 mas. dulu saya posting di blog pribadi dua kali seminggu tiap selasa dan jumat. terus blognya dibumihanguskan. sekarang ada di sini. di blog baru belum ada cerbung. masih males nulis hehe

        Liked by 1 person

Tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s