[Cerbung] Green Corvus – Episode 5

Sebuah cerbung oleh Bunda Dyah

Editor : M. Nuchid

Episode sebelumnya

*

Aries masih termenung di meja kerja. Telepon dari Andromeda membuatnya melupakan rencana untuk melanjutkan tidur. Seusai menutup telepon, dia justru menyeduh segelas kopi untuk menemani berpikir.

Ya, Aries sedang berpikir tentang novel terbarunya. Hingga saat ini, novel itu sudah delapan kali  ditolak penerbit yang berbeda. Dari delapan senior editor yang menolak naskahnya, enam di antaranya telah menemui ajalnya. Ada sesal yang menyembul di hati Aries. Sebab, novel fantasinya harus membawa korban oleh tokoh dalam novel itu sendiri. Seandainya saja tokohnya bukan burung raksasa buas, bisa jadi tidak akan membawa korban.

Tapi apa mau dikata? Ibarat kentang yang sudah menjadi perkedel, semua tak mungkin ditarik kembali. Korban telanjur berjatuhan. Yang  harus dipikirkan sekarang adalah, bagaimana mencegah jatuhnya korban berikutnya.

Bukan hanya itu. Aries juga sedang memikirkan keterkaitan antara tokoh di novelnya dengan tokoh di dunia nyata. Meski sangat tidak masuk akal, tapi Aries tetap berusaha keras mencari benang merah dari semua kejadian yang timbul akibat tokoh rekaannya itu.

Tiba-tiba saja selembar kartu nama terjatuh dari atas mejanya. Selembar kartu nama biru muda dengan logo salah satu penerbit yang pernah menolak naskahnya.

“Library Publishing. Jason Matthews, chief editor …,” gumamnya. “Hah? Jas … Jason?”

Aries mendadak seperti disengat listrik tegangan tinggi. Lalu dengan cepat jemarinya membuka lembaran-lembaran naskah. Ia mencari  sesuatu yang membuat hatinya terbelah antara senang dan kaget luar biasa.

“Aha! Ini dia!” serunya.

Aries kemudian mencatat sesuatu di selembar kertas sambil sesekali mencocokkan dengan nama-nama yang tertera pada beberapa kartu nama milik para senior editor yang sudah menjadi korban si gagak hijau.

Lalu dengan setengah berlari, dia keluar dari perpustakaan, mencari Aurora, adik sekaligus illustrator novelnya.

“Roraa … Auroraaa … Kau sudah bangun?” Aries  mengetuk pintu kamar Aurora. Arloji di tangannya menunjukkan pukul lima lewat. Biasanya, Aurora sudah terjaga di jam-jam tersebut.

“Ada apa, Res? Aku di dapur.” Terdengar suara Aurora yang  sontak membuatnya berlari menuju dapur.

“Rora …”

“Ada apa, Res? Kau tidak apa-apa, kan?” Aurora menyongsong Aries yang langsung menuju meja makan. Menuang segelas air putih dan menenggaknya sampai habis.

“Cobalah kemari,”  kata Aries setelah napasnya lebih teratur. Aurora menurut saja dan mendekati kakaknya.

“Ada apa?” Matanya tertumpu pada selembar kertas yang dibawa Aries.

“Coba kaubaca nama para editor yang sudah menjadi korban pembunuhan belakangan ini!” Aries menyerahkan daftar tersebut pada Aurora dan segera mata Aurora mencermati tulisan di dalamnya.

“Jason, Stefan, Leon, Andrew? Res, mengapa nama mereka sama dengan sekelompok anak muda yang sering mem-bully Thomas? Mem-bully-nya, sebelum dia berubah menjadi gagak hijau?”

“Nah, itulah. Dugaanku, mereka dibunuh karena memiliki nama yang sama.”

“Sebentar. Jadi, benar dugaanku selama ini, bahwa Corvus pembunuhnya?” Aries mengangguk.

“Ya. Andromeda, polisi yang menangani kasus ini yang memberitahuku.” Aries kembali menuang segelas air dan menenggaknya habis.

“Andromeda? Polisi selebritas yang sering muncul di televisi itu?” tanya Aurora.

“Ya. Dia menelponku dini hari tadi, setelah semalam Corvus makan korban lagi. Editor Diamond Publisher.”

“Jadi naskahmu tertolak lagi dan kemudian editornya …?” Aurora memenggal kalimatnya. Aries  hanya mengangguk lalu menceritakan pertemuannya dengan Andromeda, juga semua informasi yang dia dapatkan dari Andromeda.

“Tapi, dalam novelmu, keenam tokoh itu semua sudah mati. Jadi, untuk apa Thomas memburunya lagi?”

“Aku kurang paham, Rora.”

“Atau,  mereka dibunuh karena dianggap melukaimu? Mengecewakanmu atau menyakiti hatimu, begitu?”

“Apa itu mungkin?”

“Bisa saja. Bisa jadi Corvus menganggap kau tuannya. Dan saat dia tahu ada yang mengecewakanmu, ditambah lagi mereka memiliki nama yang sama dengan geng pembully itu, maka jadilah … Kau paham maksudku, kan?”

“Kalau benar begitu, berarti masih akan ada korban terakhir. Karena dari daftar ini, Jason, Stefan, Leon, Billy, Joey, dan Andrew sudah tewas. Berarti tinggal satu nama lagi yang harus kita selamatkan. Ricky.”

“Ricky? Dia editor penerbit mana?” tanya Aurora antusias. Sebagai ilustrator, dia merasa ikut bertanggung jawab atas semua kejadian ini.

“Itu yang akan kita cari tahu. Masih ada tiga naskahku lagi yang belum mendapatkan kejelasan. Satu per satu akan kucaritahu siapa nama senior editor di penerbit itu. Setelahnya, kita akan bersiap untuk menangkap Corvus. Hidup atau mati.”

“Caranya?”

“Aku sudah tahu caranya. Tapi, perlu dana yang tidak sedikit. Semoga kepolisian Metro Thousand Rivers memiliki dana yang cukup.” Mata Aries menerawang.

***

“Dom …” Aries melambai pada Andromeda yang sudah lebih dulu tiba. Mereka berjanji untuk bertemu di kafe Tanggui, guna membahas penangkapan si gagak hijau.

“Bagaimana? Sudah kau temukan caranya?” tanya Andromeda tak sabar.

“Sudah. Tapi sebelum kujelaskan, kau harus peringatkan dulu dua orang ini.”

“Ricky Alexander dan Ricky Marcus? Siapa dia?” Andromeda mengamati nama yang tertulis di secarik kertas yang disodorkan Aries. Dahinya tampak berkerut.

Aries kemudian menceritakan temuannya, tentang kesamaan nama para editor  dengan nama tokoh dalam fiksinya itu, serta dugaan mengapa gagak hijau sampai membunuh.

“Tinggal Ricky yang masih terancam. Tapi aku tidak tahu, Ricky yang mana yang akan bertemu denganku untuk menolak naskahku.”

“Kapan waktu yang dijanjikan penerbit untuk memberi kepastian akan naskahmu?”

“New Heart Publisher, di mana Ricky Alexander menjadi editor menjanjikan seminggu lagi, sementara D’Act menjanjikan Senin depan ini.”

“Ini masih hari Selasa. Cukup waktu bagi kita untuk bersiap. Lalu,  bagaimana cara menaklukkan gagak hijau itu?”

Aries tidak menjawab, hanya membisikkan sesuatu yang seketika membuat Andromeda terbelalak.

What? Berlian merah? Itu sangat mahal, Res. Apa mungkin kepolisian punya dana untuk membeli berlian merah? Aduh ….” Andromeda mengacak-acak rambutnya sendiri.

“Mungkin tidak harus beli. Kita bisa pinjam pada kolektor permata.”

“Kau gila? Mereka tidak akan mengizinkan koleksinya diutak-atik. Apalagi jika nanti rusak, siapa yang akan mengganti? Apa tidak ada jalan lain?”

“Ada. Tapi aku tidak yakin akan berhasil, mengingat sepertinya gagak hijau itu begitu ganas.”

“Apa itu?”

Aries tidak menjawab. Hanya memandang Andromeda yang terlihat sangat penasaran.

“Pakai ini.” Aries menunjuk dadanya. Entah apa maksudnya.

 

.

.

Bersambung…

Episode selanjutnya

 

2 thoughts on “[Cerbung] Green Corvus – Episode 5

Tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s