[Cerbung] Green Corvus – Episode 6

Sebuah cerbung oleh Bunda Dyah

Editor : M. Nuchid

Episode sebelumnya

*

Pria berusia empat puluhan itu berdiri di ambang jendela ruangan. Matanya menatap ke arah langit yang terlihat biru bersih. Tangan kanan dia tampak mengelus dagunya yang bercambang. Sementara tangan kiri ia masukkan pada saku celana cokelatnya.

Ricky Alexander. Senior editor dari New Heart Publisher. Pria berdarah campuran Korea-Amerika itu tengah merenungkan kematian teman-temannya, sesama senior editor dari enam penerbit terkemuka di Thousand Rivers dan Diamond City. Kabar yang ia terima, keenam rekannya itu tewas setelah menolak naskah seorang novelis. Tewas dengan cara yang tidak masuk akal. Diinjak burung ukuran raksasa.

Rasanya ingin sekali dia tidak memercayai itu. Tapi, kesaksian para petugas keamanan, yang kebetulan bertemu dengannya saat upacara pemakaman Andrew dari Diamond Publisher, membuatnya terpaksa percaya.

Bukan sekadar percaya, tapi Ricky juga mulai was-was. Dia takut menjadi korban berikutnya, karena novelis itu juga mengirimkan salah satu naskah padanya. Bahkan dia menjanjikan akan memberi keputusan pada hari Senin mendatang, apakah akan meloloskan atau menolak naskah itu.

Sejauh ini, Ricky baru membaca sedikit naskah novel bergenre fantasi tersebut. Tapi sebagai senior editor, dia tak perlu membaca keseluruhan naskah untuk tahu seberapa layak sebuah novel bisa diterbitkan. Hari Senin tinggal beberapa hari lagi dan Ricky merasa masih punya cukup waktu.

Sambil mengembuskan napas yang terasa sesak, Ricky menghampiri meja kerjanya. Diamatinya satu bendel naskah novel milik seorang novelis ternama, pencetak best seller. Novel bertajuk GREEN CORVUS itu tampak masih rapi. Hanya beberapa halaman saja yang terlihat ada bekas lipatan karena habis dibacanya. Baru bab pertama.

Ricky kemudian mencoba untuk mulai membaca novel itu. Halaman demi halaman dibacanya hingga kemudian dia menyadari sesuatu.

Nama-nama yang sama dengan para korban. Dan pelakunya pun sama, seekor gagak hijau raksasa. Apa benar gagak yang sama yang membunuh mereka? Sangat tidak masuk akal. Sungguh tidak masuk akal jika sebuah atau sesosok tokoh rekaan sebuah novel kemudian keluar dari dalam naskah lalu membunuh, batin Ricky berperang.

Ia mendengus kesal. Sesungguhnya dia tahu novel ini sangat menarik. Sangat menarik. Dia boleh membandingkannya dengan Novel Harry Potter karya J.K. Rowling yang dihadiahkan ibunya saat dia masih di sekolah dasar dulu. Sama-sama asyik sekaligus menegangkan. Banyak keajaiban namun juga banyak pelajaran dipetik.

Tapi jika sedemikian menarik, mengapa mereka menolak semua naskah itu? Padahal bisa jadi ini ladang atau pohon uang buat mereka. Lantas apa karena mereka menolak, sang burung lantas marah dan keluar untuk menghabisi mereka?

Ricky menggelengkan kepala. Dia tak bisa memercayai semua kemungkinan itu. Dia manusia yang hanya percaya pada hal-hal yang nyata, pasti, dan bisa diterima akal. Tapi, bagaimana dengan kesaksian para sekuriti itu? Bahkan mereka juga punya barang bukti berupa sehelai bulu halus berwarna hijau tua. Ricky kembali menggelengkan kepala. Mendadak dia merasa pening. Sungguh hal yang sangat memusingkan.

Terdengar pintu ruangannya diketuk. Wajah asistennya muncul di balik pintu setelah dipersilakan masuk.

“Ada tamu untuk Anda, Pak Ricky,” kata gadis dua puluh lima tahun itu.

“Siapa?”

“Kapten Andromeda, dari Kepolisian Metro Thousand Rivers.”

“Oke. Persilakan masuk dan tolong buatkan kami kopi, ya! Terima kasih sebelumnya.”

“Baik, Pak. Segera saya buatkan.” Si asisten kemudian berpamitan dan tak lama kemudian seorang lelaki muda berseragam polisi masuk ke ruangan Ricky.

“Selamat siang!”

“Selamat siang, Kapten! Silakan duduk,” sambut Ricky sambil tersenyum ramah, lalu mengajak tamunya duduk di sofa cokelat susu yang ada di ruangannya.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Ricky setelah berbasa-basi sejenak.

Andromeda kemudian menceritakan maksud kedatangannya. Dia hanya ingin Ricky waspada terhadap serangan burung raksasa, yang bisa saja terjadi padanya. Diceritakan juga soal kesamaan nama para editor dengan nama tokoh dalam novel itu.

“Saya tahu, Kapten. Saya sendiri baru saja membaca novel itu. Dan rasanya, saya tidak akan menjadi korban,” kata Ricky optimis.

“Mengapa Anda begitu yakin?” tanya Andromeda. Wajahnya diliputi penasaran meski harus menunggu jawaban, karena asisten Ricky kemudian masuk dan menghidangkan dua gelas kopi. Aromanya begitu menggelitik hidung mereka.

“Karena saya sudah memutuskan untuk menerima naskah itu dan akan menerbitkannya.” Ricky mengambil gelas kopinya sembari mempersilakan tamunya untuk minum.

“Anda yakin novel itu layak? Atau, Anda hanya ketakutan akan diserang?” sergah Andromeda.

“Saya tidak pernah takut akan apapun. Tapi yang paling penting, novel itu memang layak dan saya tidak punya alasan untuk menolaknya.” Ricky meletakkan kembali gelas kopinya dan bersandar di punggung kursi.

“Perlu Anda ketahui, selain Anda, masih ada satu Ricky lagi yang berprofesi sebagai editor,” kata Andromeda.

“Ya. Saya tahu. Dia bekerja untuk D’Act Publisher. Jika saya sudah menerima naskah ini, mau tidak mau naskah itu harus ditarik dari sana. Apa jika naskah itu diambil kembali oleh penulisnya, editornya tetap akan mengalami nasib yang sama?”

“Kalau menurut logika saya, tidak,” jawab Andromeda. “ Kenapa? Karena penulisnya sendiri yang mengambil naskahnya. Naskah itu bukan ditolak tapi diambil kembali atau ditarik. Jadi editornya tidak akan mengalami apa pun.”

Ricky terlihat manggut-manggut. Entah paham atau tidak, Andromeda tak bisa memastikan.

“Tapi, jika Anda menerima naskahnya dan naskah yang lain diambil oleh penulisnya, maka akan sangat sulit bagi kami untuk menangkap gagak itu. Karena, dia hanya akan muncul jika ada naskah yang tertolak.” Andromeda tampak berpikir keras.

“Lho, bukannya justru lebih mudah? Anggap saja kasusnya sudah selesai. Case closed!”

“Tidak bisa seperti itu, Pak Ricky! Kasus ini sudah menjadi konsumsi publik. Media hampir setiap hari melakukan update perkembangannya. Masyarakat terutama keluarga korban tentu akan bertanya-tanya, mengapa kasus ini ditutup tanpa kejelasan? Kami tidak mau seperti itu. Kami akan tetap berusaha agar burung gagak itu muncul lagi dan kemudian menaklukkannya,” tegas Andromeda.

“Caranya?” Ricky tampak tak paham.

“Kami mungkin akan memakai umpan.”

“Umpan?”

“Ya. Seseorang, yang akan berpura-pura menolak naskah itu, berpura-pura menjadi editor hanya untuk memancing gagak itu datang.” Ricky terlihat manggut-manggut dan berpikir keras. Kerutan di dahinya mengatakan itu.

“Aku akan mengambil risiko!” seru Ricky kemudian.

“Risiko apa?”

“Aku akan berpura-pura menolak naskahnya dan mengembalikannya. Tapi sebelum itu, aku akan menghubungi Aries, agar dia mengirimkan naskahnya melalui surel, agar aku punya salinannya. Bagaimana?”

“Ide yang sangat bagus. Tapi, Anda yakin akan melakukannya? Risikonya sangat besar. Jika kami tidak behasil menaklukkannya, nyawa Anda taruhannya.” Andromenda tampak khawatir. Dia tidak menyangka Ricky mau menjadi umpan.

“Tidak apa-apa. Sebagai warga Thousand Rivers, aku merasa belum banyak berbuat. Apa salahnya sesekali melakukan sesuatu yang berarti?”

Andromeda diam. Dia memikirkan segala kemungkinannya. Kesediaan Ricky sungguh di luar dugaannya dan itu berarti Ricky Marcus secara otomatis tercoret dari daftar calon korban.

“Baiklah, Pak Ricky. Saya permisi dulu. Saya akan menghubungi Aries untuk mengatakan kesediaan Anda. Kita akan bertemu lagi untuk membahas rencana selanjutnya bersama Aries. Dia yang paham bagaimana menaklukkan burung gagak itu. Membicarakan ini bersama dengannya akan membuat segalanya berjalan lebih mudah.” Andromeda pun berdiri dan melangkah keluar.

“Oke. Saya yang akan menghubungi Ricky Marcus. Feeling saya mengatakan, dia sudah merencanakan menolak naskah itu. Dia kurang suka hal-hal yang tidak masuk akal. Asal Anda tahu, Harry Potter dan Lord of The Ring adalah dua novel yang paling dibencinya sepanjang hidup.” Andromeda hanya manggut-manggut.

“Baik, Pak. Terima kasih atas kerjasama Anda. Selamat siang!”

“Selamat siang, Kapten!”

Ricky kembali menutup pintu ruangannya. Matanya tampak berbinar karena membayangkan keuntungan besar setelah menerbitkan novel yang menurutnya fenomenal. Fenomenal bahkan sebelum diterbitkan. Ricky juga membayangkan, bagaimana rasanya berhadapan dengan burung raksasa. Menurut Ricky, itu akan menjadi pengalaman tak terlupakan.

.

.

Bersambung…

Episode selanjutnya

Advertisements

6 thoughts on “[Cerbung] Green Corvus – Episode 6

  1. Alurnya bgtu jlas, dan sy bs menangkapnya dg baik, kata demi katanya. Tp jujur, msh penasaran gmn endingnya, dan gmn nasib si Ricky itu.

    Btw, kok gak dksih “bersambung” pd bgian akhir postingannya?
    Trus, ada 2 kata yg typo, yakni kata ‘sebagai’ pada paragraf 5, dan kata ‘menunggu’ paragraf slnjutnya (lp yg kbrpa).

    Liked by 1 person

    1. seingat saya saya sudah pernah kasih saran admin untuk menautkan setiap episodenya mas. biar yang baru baca bisa tahu episode sebelum dan sesudahnya.

      untuk admin, kalau bingung coba lihat fiksilizz.blogspot.co.id atau blog fiksi yang lain. contek aja gimana menautkan episode pada cerbung biar pembaca nggak repot cari sambungannya.

      Liked by 1 person

Tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s