[Cerbung] Green Corvus – Episode 7

Sebuah cerbung oleh Bunda Dyah

Editor : M. Nuchid

Episode sebelumnya

*

Aries baru selesai mandi ketika ponselnya berdering. Nama Andromeda tertera di layar.

“Halo! Ya, Dom!” seru Aries sambil melangkah ke dapur. Menyeduh kopi adalah tujuannya.

“Aku sudah memberitahu Ricky Alexander. Dan aku juga punya kabar gembira untukmu.”

“Kabar gembira? Apa?”

Andromeda kemudian menceritakan hasil pertemuannya dengan Ricky Alexander. Tentang naskah yang lolos, namun dibuat seolah tidak lolos, juga rencana Ricky untuk menjadi umpan bagi si gagak hijau.

“Dia yakin akan melakukannya?” Pertanyaan yang langsung diiyakan Andromeda.

“Dia Cuma ingin membantu. Meski di balik itu, aku yakin dia berharap novelmu akan membawa keuntungan besar bagi perusahaannya. Siapa yang tidak kenal Aries?”

“Ah, kau bisa saja. Untuk saat ini, lolos atau tidak bukan lagi masalah buatku. Yang  kupikirkan sekarang adalah, bagaimana secepatnya menangkap Corvus. Aku tidak ingin masyarakat semakin resah. O, ya. Bagaimana dengan berliannya? Sudah ada informasi?”

“Belum. Mungkin malam ini aku akan bertemu Pak Shan. Katanya, ada salah seorang kerabatnya yang mengoleksi berlian. Boleh atau tidaknya berlian itu dipakai,  akan aku ketahui malam ini.”

“Rees, Arrieess! Kemarilah sebentar!” Tiba-tiba terdengar suara Aurora dari perpustakaan. Dia memang sedang merapikan buku-buku di ruangan itu.

“Sebentar, ya, Dom. Nanti aku hubungi kamu lagi. Sepertinya, adikku perlu bantuan,” kata Aries seraya melangkah tergesa ke perpustakaan.

“Oke, tak masalah. Kita akan saling member informasi. Selamat sore!”

“Selamat sore!” Aries menutup telepon. “Ada apa, Rora? Kenapa kau terlihat panik?!” Aries memandang Aurora yang tampak kebingungan sambil membolak balik lembaran naskah-naskah novel  Aries yang dikembalikan penerbit.

“Apa kau tahu, sejak kapan gambar-gambar burung gagak ini raib dari naskahmu?” Aurora memandangi naskah itu, sambil sesekali menatap penuh tanya pada kakaknya. Aries hanya diam dan menghela napas.

“Sudah beberapa lama. Menurut dugaanku,  sejak naskah ketiga dikembalikan. Kaulihat saja tanggalnya! Aku selalu membubuhkan tanggal setiap kali naskah itu dikembalikan. Dan dua tanggal paling awal, semua gambarnya masih lengkap.” Aries mengambil dua naskah pertama yang dikembalikan penerbit. Dan seperti yang dikatakan Aries, Aurora melihat semua ilustrasinya masih lengkap.

“Kenapa cuma ada tujuh naskah? Bukannya sudah delapan yang ditolak?”

“Ah, iya. Aku lupa!” Aries menepuk dahinya. “Naskah terakhir dari Diamond Publisher ada pada Andromeda. Aku memberikan padanya saat bertemu di kafe malam itu.”

“Apa naskah itu juga raib gambarnya?”

“Ya. Bahkan tetangga Andromeda melihat bayangan seekor burung besar ada di kamar Andromeda, disertai angin kencang yang kemudian berhenti saat bayangan burung itu lenyap. Anjing Andromeda juga menyalak keras, tak seperti biasanya.”

“Kau sendiri, pernah mengalaminya? Maksudku, kau juga pernah melihat bayangan burung itu saat keluar dari naskah?” tanya Aurora penuh rasa penasaran. Aries diam dan membuang napas, lalu melangkah menghampiri jendela.

“Pernah. Tapi aku hanya merasakan angin yang bertiup sangat kencang, Siro yang menyalak seperti ketakutan, dan saat aku sampai di sini, semua naskah itu terbuka halamannya. Tirai jendela juga terbuka dan masih bergerak seperti tertiup angin, padahal semua jendela rapat terkunci.” Aries terdiam sesaat lalu berbalik menatap Aurora.

“Sayangnya, saat itu aku tidak menyadari ada yang hilang dari naskahku. Aku baru menyadari keesokan harinya, saat aku akan berangkat ke Diamond Publisher. Aku sengaja tidak mengatakan kepadamu agar kau tidak panik. Tapi rupanya, sudah saatnya kau tahu segalanya. Bagaimanapun, kau bagian dari naskah itu. Tanpa ilustrasi yang kaubuat, naskah itu tidak akan hidup.”  Aries melangkah ke sofa dan menghempaskan tubuhnya di sana.

“Pertanyaanku, Res. Jika sudah enam pembunuhan yang terjadi, sudah enam naskah yang raib gambarnya, ke mana enam burung itu pergi setelah menghabisi para editor itu? Apa mungkin dia lenyap begitu saja?”Aurora menghampiri kakaknya lalu duduk di sisinya.

“Bisa jadi. Kau tentu ingat, bukan? Setiap Corvus selesai menghabisi musuhnya, dia akan kembali menjadi Thomas. Bersembunyi di kamarnya yang pengap, untuk kemudian berubah kembali menjadi gagak hijau buas saat waktunya tiba. Atau, karena dia hanya gambar yang tak lain berwujud karena tinta, maka dia akan lenyap dengan sendirinya terkena embun malam.“ Aurora hanya diam, menyimak penuturan Aries.

Jujur saja dia benar-benar kebingungan dengan kasus aneh ini. Dan selama menjadi illustrator, baru kali ini ada ilustrasi hasil karyanya, yang lenyap begitu saja dari naskah.

“Lalu, bagaimana dengan berliannya? Katanya, Andromeda dan kepolisian akan mengusahakan?” tanyanya kemudian.

“Baru saja Andromeda menghubungiku. Dia bilang, malam ini akan ada kepastian tentang berlian merah itu. Atasannya mengatakan, ada seorang kerabatnya yang memiliki koleski berlian. Tapi, boleh atau tidaknya, baru malam ini akan diketahui.  Kamu tenang saja, Rora. Ini baru hari Kamis. Hari Senin masih beberapa hari lagi.”

“Aku hanya ingin semuanya segera selesai, Res. Entahlah, aku merasa sangat tidak enak,”  tutur Aurora.

“Apalagi aku. Aku yang menulis ceritanya.” Aries merangkul adiknya, lalu membelai rambutnya. Keduanya kemudian terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Beberapa jam kemudian, di Kepolisian Metro Thousand Rivers.

“Besok, kamu berangkat ke Jakarta!” Shan Lewis menyerahkan sebuah amplop besar pada Andromeda.

“Jakarta, Pak? Besok?” tanya Andromeda sambil meraih amplop itu dan membukanya, setelah mendapat persetujuan dari Shan. Mereka kini duduk bersebelahan di sofa ruang kerja Shan Lewis.

“Nyonya Neeha, sepupu istriku sudah bersedia meminjamkan berliannya. Dalam amplop yang kaupegang itu ada alamat dan nomor teleponnya. Aku sudah bilang padanya, yang akan mengambil berlian adalah seorang polisi ganteng bernama Andromeda. Pangkat Kapten, status High Quality Jomblo dan sedikit keras kepala.”

“Ah, Bapak ini. Bisa saja!” Andromeda tersipu sambil memeriksa satu persatu isi amplop besar itu. Ada surat tugas, tiket pesawat, juga alamat dan nomor telepon Nyonya Neeha.

“Loh, siapa tahu kau akan diambil menantu olehnya? Anak gadisnya, cantik,loh!” Shan Lewis tersenyum. Dia sengaja menggoda Andromeda yang terlihat sangat tegang.  Dia memaklumi itu. Kasus gagak hijau ini memang membingungkan. Kasus teraneh selama Shan Lewis menjadi polisi.

“Jaga berlian itu baik-baik. Berlian itu barang langka. Menurut si empunya, banyak sekali yang menginginkannya, bahkan beberapa dari mereka menghalalkan segala cara.” Shan mencoba mengingatkan anak buahnya itu.

“Aku juga sudah berkoordinasi dengan Polda Metro Jaya. Pihaknya bersedia memberikan bantuan pengawalan bila diperlukan. Apalagi, mereka juga beberapa kali menangani kasus yang berkaitan dengan berlian merah itu. Kita  sangat perlu berlian itu. Jangan sampai kita kehilangan dan dianggap tidak bertanggung jawab.”

“Baik, Pak.”

“Nyonya Neeha memang sudah mengikhlaskan jika berlian itu sampai rusak atau hancur saat kita menakhlukkan gagak hijau itu. Tapi alangkah baiknya jika kita bisa mengembalikan dalam keadaan utuh.”

“Baik, Pak. Kalau begitu, saya permisi dulu. Saya harus bersiap untuk penerbangan besok pagi. Selamat malam, Pak!” Andromeda memberi hormat pada Shan dan dibalas dengan anggukan kepala. “Selamat malam, Dom!”

Andromeda pun keluar dari ruangan Shan Lewis dengan membawa amplop berisi tiket dan semua dokumen penting untuk mengambil berlian merah itu. Dia begitu bersemangat. Tak lupa dihubunginya Aries untuk memberitahukan kabar gembira itu. Tak sabar rasanya menunggu gagak hijau itu tertangkap. Hidup atau mati.

.

.

Bersambung…

Episode selanjutnya

 

Advertisements

4 thoughts on “[Cerbung] Green Corvus – Episode 7

Tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s