[Cerbung] Green Corvus – Episode 8

Sebuah cerbung oleh Bunda Dyah

Editor : M. Nuchid

Episode sebelumnya

*

Pantai Indah Kapuk Jakarta, Jumat pagi.

Seorang wanita pertengahan lima puluhan tengah bercakap dengan Andromeda. Dia Nyonya Neeha. Perempuan yang masih terlihat cantik di usianya itu, membuka sebuah kotak besi dan memperlihatkan isinya pada Andromeda.

“Wow!” Andromeda memandang takjub pada benda berwarna merah berkilauan itu. Berlian merah. Dari kilaunya yang memukau, tampak sekali si pemilik rajin membersihkan koleksinya itu dari debu. Wadahnya pun sangat istimewa. Kotak kaca dengan alas beludru warna merah hati, yang dibalutkan pada stereofoam lembut namun padat, agar berlian tidak terbentur namun tetap kuat bertahta di tempatnya.

“Jaga benda ini baik-baik, Kapten,” kata Nyonya Neeha sambil menutup kembali kotak kaca itu, lalu memasukkannya dalam kotak besi dan menguncinya.

“Saya sungguh rela jika dia rusak atau hancur karena digunakan untuk kebaikan. Tapi saya bisa berbuat gila, jika benda ini hilang dan jatuh di tangan para pemburu. Karena berlian merah ini tidak hanya indah. Dia juga punya kekuatan yang jika disalahgunakan bisa berbahaya.” Tatapan Nyonya Neeha yang tajam dan berwibawa membuat Andromeda hanya diam. Bukan takut, tapi dia merasa hanya berhak diam. Bagaimanapun, rumah itu, juga kota ini, bukan wilayahnya.

“Baik, Nyonya. Saya akan jaga dengan baik benda ini berikut sertifikat yang menyertainya. Saya akan berusaha untuk mengembalikannya dalam keadaan utuh dan melindunginya dari orang jahat,” kata Andromeda mantab sambil menerima kotak besi itu dari tangan Nyonya Neeha.

“Setelah ini, Anda akan diantar dengan helikopter pribadi saya hingga ke Bandara Halim Perdana Kusuma. Dua orang polisi akan menemani Anda untuk menjaga berlian tersebut.” Nyonya Neeha berdiri dan memberi isyarat pada Andromeda untuk mengikutinya. Ternyata ke halaman belakang di mana terdapat helipad di tengah lapangan rumput yang cukup luas. Sebuah helikopter merah marun dengan tulisan Nee Air putih, juga sudah menunggu di sana.

“Dari bandara Halim, Anda akan diantar dengan pesawat pribadi ke Thousand Rivers. Tapi ingat, jangan percaya pada siapa pun di dalam pesawat termasuk pilot dan pramugari. Mereka semua tahu tentang koleksi saya. Dan meski mereka notabene adalah karyawan saya, tapi tetap saja perlu diwaspadai. Anda bisa?” Kembali mata tajam Nyonya Neeha menghunjam bola mata Andromeda.

“Baik. Saya sanggup, Nyonya. Saya akan berhati-hati. Atas nama pimpinan dan kepolisian Metro Thousand Rivers, saya mengucapkan terima kasih. Permisi, Nyonya.”

Andromeda menjabat tangan Nyonya Neeha dan melangkah ke arah helikopter yang sudah dihidupkan mesinnya. Suaranya memekakkan telinga, sementara baling-balingnya berputar sedang, seolah menunggu perintah untuk mempercepat putarannya..

Setelah naik ke dalam helikopter, Andromeda segera memasang sabuk pengaman dan headset. Tak lama kemudian, helikopter pun segera meninggalkan helipad dan bergerak perlahan menuju Bandara Halim perdana Kusuma.

Sampai di bandara, tiga orang polisi menyambut kedatangan Andromeda.

Kok tiga orang? Bukannya kata Nyonya Neeha hanya dua? Andromeda membatin. Tapi keanehan itu segera dia abaikan. Bukankah makin banyak makin aman? Andromeda kemudian menggedikkan bahunya dan mempercepat langkahnya menghampiri ketiga polisi itu.

“Selamat datang, Kapten! Saya Aiptu Haikal dan ini rekan saya Aipda Arul dan Briptu Fani.” Polisi berperawakan tinggi atletis dan berkulit cokelat itu mempekenalkan dirinya. Sementara yang disebut sebagai Aiptu Arul adalah seorang polisi berwajah tenang dengan kulit lebih terang. Briptu Fani, seorang polisi wanita yang menawan. Tinggi semampai bak foto model dengan rambut cepak ala Demi Moore dalam Ghost. Terlihat energik namun tetap anggun.

Andromeda menjabat tangan mereka satu persatu. Saat bersalaman dengan Aipda Arul, Andromeda melihat polisi itu juga membawa kotak besi yang ukuran dan bentuknya sama persis dengan yang dia bawa.

Untuk apa? Mengapa harus sedemikian mirip? Ah, mungkin berisi alat pengamanan mereka. Senjata misalnya. Biar saja, bukan urusanku. Batin Andromeda lalu mengkuti langkah ketiga polisi itu.

Mereka berempat kemudian berjalan beriringan menuju sebuah pesawat merah maroon dengan tulisan Nee Air putih. Warna dan tulisan yang sama dengan helikopternya.

Pasti ini pesawat pribadi Nyonya Neeha. Terkesan mewah dari luar. Pasti dalamnya pun luar biasa, batin  Andromeda.

Di tangga pesawat, seorang pramugari cantik sudah menunggu mereka. Berbalut busana merah maroon dan rambut disanggul french twist, pramugari yang bernama Lisa ini mempersilakan mereka untuk masuk ke pesawat.

Sekali lagi Andromeda dibuat takjub. Pesawat pribadi itu memang luar biasa. Interiornya minimalis namun menunjang kenyamanan penumpangnya. Pendingin dengan suhu sedang dan aroma lavender menambah kenyamanan. Di sisi kiri, empat kursi mengahadap ke depan dan satu kursi panjang memunggungi jendela di sisi kanan. Semua kursi berbalut bahan kulit nan mewah namun tak kaku. Warna putih yang menghiasi hampir seluruh kabin pesawat, menghadirkan kesan romantis.

Terdapat pula rak yang penuh dengan buku-buku, mulai buku sejarah, motivasi, hingga novel. Tidak ada passanger luggage tapi beberapa almari mungil siap menggantikannya.

Andromeda lalu duduk senyaman mungkin di sisi kiri dekat dengan jendela. Kotak besi yang dibawanya diletakkan begitu saja di sisi kakinya. Matanya kemudian mengamati kesibukan di bandara. Sebuah pesawat dengan tulisan Polri juga terlihat baru saja mendarat.

Tiba-tiba terdengar ponsel Aiptu Haikal berdering.

“Halo! Dengan Aiptu Haikal! Siap, Pak. Baik, Pak. Siap. Laksanakan!” Klik telepon ditutup.

“Maaf, Kapten.” Haikal menghampiri Andromeda.

“Ada apa, Pak?”

“Sepertinya Anda hanya akan dikawal oleh Aipda Arul. Saya dan Briptu Fani akan naik pesawat kepolisian.”

“Mengapa demikian? Bukankah Anda bertiga seharusnya membantu saya mengawal benda berharga itu?”

“Ini perintah atasan, Pak. Saya tidak berani membantah.”

Aneh. Mengawal kok setengah-setengah? Lagi pula, apa tidak bisa pesawat mereka itu langsung menjemput di Ironwood saja, setelah tugas mereka selesai?

Andromeda mendengus kesal. Tapi cuma itu. Dia tidak berbuat apa pun. Apalagi katanya, itu perintah dari atasan

“Baiklah jika memang demikian. Sampai bertemu di Ironwood International Airport.” Andromeda mempersilakan Haikal dan Fani turun dari pesawat mewah itu. Kotak besi itu  pun mereka bawa serta.  Tinggallah dia bersama Arul dan kotak besi lainnya yang berisi berlian.

“Biar saja lah, setidaknya masih ada yang membantuku mengawal benda ini. Lagi pula, kapan lagi bisa naik pesawat semewah ini, desah Andromeda.

Tak lama pesawat pun tinggal landas. Mengangkasa dengan cantik nyaris tanpa hentakan. Saat pesawat sudah terbang dengan tenang dan seatbelt sudah dilepaskan, Lisa menghampiri mereka berdua.

“Bapak-bapak berdua ingin saya siapkan sesuatu?” Matanya menatap Andromeda dan Arul secara bergantian. “Minuman ringan mungkin?”

“Saya hanya perlu air mineral. Kapten?”Arul memandang Andromeda.

“Kalau ada, saya ingin jus buah. Tapi jika tidak, air mineral pun tak masalah. Terima kasih sebelumnya,” kata Andromeda sambil tersenyum .

“Baiklah, segera saya siapkan,” Lisa kemudian kembali ke bagian belakang pesawat. Sementara Andromeda memilih membaca sebuah buku yang ternyata antologi karya Darin, penulis kenamaan di zamannya. Arul tak melakukan apa pun. Matanya sigap mengamati setiap sudut pesawat. Sikap duduknya pun tenang, rileks, meski tetap waspada.

“Silakan diminum, Pak!” Tanpa menunggu lama, jus dan air mineral pun terhidang, ditambah bonus senyum manis sang pramugari. Tapi senyuman manis itu mengundang curiga Arul. Apalagi kemudian Arul melihat Emily mengamati gelas jus Andromeda. Seolah ada sesuatu yang sudah dimasukkan ke dalamnya.

“Aipda Arul, silakan diminum!” seru Andromeda mempersilakan Arul untuk minum.

“Ya, Kapten. Silakan duluan!” Arul masih menunggu beberapa saat hingga kemudian dia pun menenggak habis sebotol air mineral yang disuapkan untuknya. Dan entah karena ada sesuatu dalam minuman mereka, atau mungkin karena mereka kelelahan dan kurang tidur, beberapa menit setelah minum mereka pun terlelap. Mereka tak menyadari, ada yang mengambil benda berharga milik mereka.

.

.

Bersambung…

Episode selanjutnya

 

 

2 thoughts on “[Cerbung] Green Corvus – Episode 8

Tinggalkan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s